Tuesday, April 17, 2007

UN dan Barang Kesayangan

Ppffffff..... udah hari selasa lagi, waktu sangat cepat berlalu ya?? atau hanya perasaan ku saja ya?? heran sekali, saya bertambah tua setiap harinya, jadi membayangkan, bagaimana kelak tampang saya nanti? ketika berumur 20 tahun, sudahkah saya menjadi kurus dan tampan seperti model sinetron?? *digetok* hahahahaha..

btw, lagi-lagi dan LAGI ! saya tidak jadi UTS hari ini, huh, tau gini kan tadi saya bisa tidur di rumah, dan bangun dengan kondisi badan yang amat segar pada sore harinya, mana keadaan cuaca sangat mendukung lagi buat bermalas-malasan ria... --HUJAN-- dan omong-omong soal hujan, dari beberapa hari yang lalu, daerah rumah (atau kosan lah, sama saja bagi saya) selalu saja di guyur hujan, pada pagi hari, dan sore hari. Kalau yang sore hari sih mendingan, yang jadi masalah adalah, kalau hujan itu turun pada pagi hari, anda pasti sudah tahu jawabannya bukan?? tak usah dibahas lagi kalau begitu. hehehe..

Balik lagi ke persoalan UTS yang tak jadi, sebenernya alasan UTS kali ini di batalkan adalah, keluarga dosen saya yang seharusnya mengajar, sedang terkena musibah, entah musibah apa, SBA hanya memberi tahu kalau beliau sedang tertimpa musibah, itu saja. Well saya hanya bisa memberikan ucapan belasungkawa terhadap beliau.

Hari ini, junior gue yang sekarang duduk di bangku kelas 3 sma, sedang mengikuti yang namanya UN alias UJIAN NASIONAL. Aaaahh, memoriku langsung melayang, teringat akan ujian yang tahun lalu juga saya alami, ujian yang sebenarnya menurut saya sangatlah tidak adil dan sangat memberatkan siswa, bukan karena saya mempermasalahkan sistem yang dibuat pemerintah untuk menguji kemampuan intelektual siswa Indonesia, bukan itu. Bukan sama sekali.

Hanya saja, menurut pendapat saya pribadi, pengorbanan para siswa yang sudah berjuang selama 3 TAHUN hanya dinilai dengan sebuah UJIAN yang hanya diselenggarakan selama 3 HARI, sangat tidak adil bukan?? jauh sekali perandingannya, 3 TAHUN : 3 HARI. Ah tapi itu hanyalah pendapat pribadi saya, siapa tahu ada orang yang lebih bijak, dan dapat memberikan pendapat yang lebih logis daripada pendapat yang saya sebutkan diatas. Bukan begitu?

Dan omong omong tentang saya punya hobi untuk memberi nama terhadap barang yang saya punya, bukan tanpa alasan kalau saya memberi nama terhadap barang barang saya, seperti komputer misalnya, bukankah para gitaris dan musisi juga memberi nama pada alat musik yang dimainkannya?? seperti BB.King yang memberi nama "LUCILE" pada gitar GIBSON hitamnya? seperti Steve Vai yang juga memberi nama "EVO" pada gitar Ibanez JEM warna putihnya?? menurut saya, setiap orang memberi nama pada barang kesayangannya adalah sebagai ungkapan terima kasih kepada "barang" itu, kenapa ucapan terimakasih?? simpel, karena alat musik mereka sudah membantu mereka mencari penghasilan yang layak, dan telah menemani sebagian momen momen bersejarah dalam kehidupan mereka, begitu pula yang telah Chyntia lakukan padaku. Bahkan tak jarang orang juga memberi kecupan kepada barang kesayangannya itu, seperti Phill Collins yang mengecup stik drumnya ketika habis manggung, pada saat dia masih berprofesi sebagai penabuh drum dalam-band-entah-apa-namanya-saya-lupa.

Dan percaya atau tidak, tindakan yang menurut sebagian orang adalah tindakan aneh atau weird, atau apalah, mendapat respon dari "barang" yang kita sayang itu, saya contohnya, suatu saat, Chyntia-ku mengalami masalah pada sistem boot up-nya, otomatis saya kalang kabut menghadapi hal yang satu itu, kenapa, karena, pada saat itu, Chyntia belum genap berusia satu bulan di tangan saya, otomatis saya "membelai belai" *tsahh bahasanya* CPU nya, dan ajaibnya, gitu saya restart ulang, komputer saya yang satu itu langsung jalan seperti biasa, seperti tidak ada error yang baru saja menimpanya. Aneh tapi nyata bukan?? saya sendiri, sampai sekarang masih terheran-heran terhadap hal yang satu itu.

Dan omong-omong tentang internet, tak terasa sudah hampir 2 minggu saya menjalani kehidupan tanpa internet di kamar, amat sangat membosankan, tapi untunglah, saya sudah mendapatkan warnet yang dapat dipercaya, dalam artian, akses cepat, aman, tanpa virus, dan tentunya, suasana warnet yang bebas dari teriakan orang-orang kalah dalam maen game. senangnya,,,,

Sudah sore lagi... Gash! cepat sekali ya..

Sementara gerimis sisa hujan lebat tadi masih saja turun, entah kapan berhentinya, bisa sakit saya kalau terus menerus berhujan-hujan ria entah dari beberapa hari yang lalu.

ah enaknya ngapain ya?? sore-sore begini?? hujan pula, entahlah,,,

sudahlah, udah maghrib nih, gue mao balik ke kandang gue yang nyaman..

hehe..

p.s : Helen, Otto itu nama yang punya laptopnyaaa... --;;; saya tidak pernah memberi nama barang-barang orang, selain barang punya saya sendiri.. --;;;




2 comments:

Helen said...

Huahauhuahhahua... iya2.... sewot banget toh... hahahhahahhaha...

Mana kutau juga kalo itu nama orgnya.... lah konteks ceritanya nyambung seh... hahahaha... lagian, as I said, Otto juga nama yg cocok untuk sebuah laptop.

Btw, aku juga punya barang kesayangan banyak, tp kaga pernah ada yg kunamai tuh :p

lcc said...

Kumpulkan Kapas

Dikisahkan, ada seorang pedagang yang kaya raya dan berpengaruh di kalangan masyarakat. Kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering keluar kota. Suatu saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai berjudi dan bertaruh.

Mula-mula kecil-kecilan, tetapi karena tidak dapat menahan nafsu untuk menang dan mengembalikan kekalahannya, si pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras di meja judi. Istri dan anak-anaknya terlantar dan mereka jatuh miskin.

Orang luar tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk menutupi hal tersebut, dia mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena orang kepercayaan, sahabatnya, mengkhianati dia dan menggelapkan banyak uangnya. Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia itu, jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot dengan pandangan curiga oleh masyarakat di sekitarnya dan dikucilkan dari pergaulan.

Si pedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menengok sekaligus memohon maaf kepada si sahabat “Sobat, aku mengaku salah! Tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?”

Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, “Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah ke atap rumah. Sesampainya di sana, ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit.”

Walaupun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, segera dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kapas habis disebar, dia kembali menemui laki-laki yang sekarat itu.

“Permintaanmu telah aku lakukan, apa permintaanmu yang kedua?”

“Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah kau sebarkan tadi,” kata si sahabat dengan suara yang semakin lemah.

Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, “Maaf sobat, aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas telah menyebar ke mana-mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi.”

“Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu takkan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja,” kata si sakit.

“Aku tahu. Engkau sungguh sahabat sejatiku. Walaupun aku telah berbuat salah yang begitu besar tetapi engkau tetap mau memberi pelajaran yang sangat berharga bagi diriku. Aku bersumpah, akan berusaha semampuku untuk memperbaiki kerusakan yang telah kuperbuat, sekali lagi maafkan aku dan terima kasih sobat.” Dengan suara terbata-bata dan berlinang air mata, dipeluklah sahabatnya.

Netter yang luar biasa.…
Seperti kata pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kebohongan tidak berakhir dengan penyesalan dan permintaan maaf. Seringkali sulit bagi kita untuk menerima kesalahan yang telah kita perbuat. Bila mungkin, orang lainlah yang menanggung akibat kesalahan kita.

Kalau memang itu yang akan terjadi, lalu untuk apa melakukan fitnah yang hanya membuat orang lain menderita. Tentu… jauh lebih nikmat bisa melakukan sesuatu yang membuat orang lain berbahagia.

www.lcc-ptc.com